Masih 8 Korban Hidup di Ambacang


MEMASUKI hari ketiga setelah gempa tektonik berkekuatan 7,6 SR mengguncang Padang dan sekitarnya, tim penyelamat menemukan bahwa masih ada warga yang selamat di balik reruntuhan bangunan.Koordinator Satuan koordinator pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana Provinsi Sumatera Barat Ade Edward di Padang, Jumat (2/10), mengatakan, setelah memakai life detector, petugas mendapati adanya tanda-tanda kehidupan di balik beton yang runtuh.

“Alat ini bisa mendeteksi tanda-tanda kehidupan sampai kedalaman 2,5 meter. Kami sudah memakai sejak Kamis malam dan ada beberapa tempat yang kami temukan masih ada yang hidup,” kata Ade.Petugas berhasil menyelamatkan dua korban yang terhimpit bangunan di kampsu Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga, Jalan Veteran, Padang.

Di tempat ini, diperkirakan ada ratusan mahasiswa dan dosen yang terjebak. Sedikitnya ada 22 orang dalam satu ruangan yang masih terjebak. Ade menjelaskan, nasib 22 orang lainnya belum diketahui dan usaha untuk mengevakuasi korban yang diduga masih terjebak di reruntuhan bangunan itu terus dilakukan.

Dua korban yang bisa keluar dengan selamat pada Jumat, berkat perjuangan tujuh anggota TNI AD dari Batalion 133/Yudha Sakti dan tiga pemuda pemberani.
Dua korban yang selamat itu adalah Ratna Sari, mahasiswi semester III STBA Prayoga Padang, dan dosen muda, Suci (30).

Ratna berhasil diselamatkan tim evakuasi pada pukul 13.15 WIB, sedangkan Suci dikeluarkan pukul 15.30. Keduanya terperangkap dalam kampus yang beralamat di Jalan Veteran itu, sejak Rabu (30/10). “Saya masuk bersama anggota TNI dari bawah reruntuhan kampus setelah sejak Rabu mencoba mencari jalan untuk mengevakuasi korban,” tutur Dedi (25), seorang pemuda yang berhasil menyelamatkan kedua korban gempa itu.

Dedi kebetulan adalah alumnus STBA Padang BP 2003 dan telah diwisuda pada 2008. “Saya tidak tega mendengar teman-teman terhimpit kampus. Apalagi Suci, yang sekarang dosen, saya kenal. Suci merupakan alumnus STBA BP 2002,” kata Dedi.

Ketika mendengar STBA ambruk dan menghimpit belasan mahasiswi, Dedi mengaku pada Rabu sore datang ke kampus yang berjarak kurang satu kilometer dari Kantor Gubernur Sumbar itu. “Dari teman-teman di STBA saya mendengar kabar ada yang berteriak-teriak dari bawah reruntuhan dan belum bisa diselamatkan,” kata Dedi yang tampak bahagia bisa menyelamatkan dua nyawa.

Pada Rabu malam, Dedi dan beberapa relawan mencoba mencari-cari upaya untuk bisa masuk ke reruntuhan, tapi tidak berhasil. Hal itu juga dilakukannya pada Kamis (1/10), tapi belum membuahkan hasil.”Sejak Rabu itu tidak alat untuk melakukan evakuasi,” kata dia. Dedi mengatakan sejak Kamis dia berusaha pergi ke posko Satkorlak di Kantor Gubernur untuk mendapatkan alat berat untuk evakuasi, namun tidak berhasil.

“Kami lalu pergi ke rumah Wali Kota Padang di Jl A Yani. Upaya ini tidak juga berhasil,” kata dia. Pada Jumat ada sebuah alat berat dikerahkan untuk mengangkat reruntuhan. Namun, kampus berlantai IV itu betul-betul ambruk, maka petugas kesulitan untuk menyelamatkan korban.

Pada Kamis pagi, Dedi mencoba bernegoisasi dengan sejumlah anggota TNI 133/YS.”Sebelumnya ide saya untuk masuk ke dalam mendapat penolakan dari petugas lainnya. Tapi, setelah diyakinkan, kami masuk ke dalam,” kata Dedi. Dedi mengaku hafal betul denah kampus itu. Di bawah reruntuhan gedung yang cukup berat dan terus bergerak itu, Dedi mencoba mencari-cari celah untuk masuk ke ruang di mana korban berada..

Tubuh Dedi tampak tergores-gores akibat reruntuhan bangunan. Matanya memerah karena bergadang semalaman.Ia tampak lelah, namun dari sinar matanya yang tajam, dia terlihat bersemangat.Bersama Dedi, juga masuk ke bawah reruntuhan dua warga sipil lainnya, Taufik, dan Erwin.

Sedangkan dari anggota TNI AD Batalion 133/YS masuk Lettu Inf Ridwan (Danton Kompi B), Lettu Inf Murdoyo, Irwansyah, Suwandi, Arif, Ridwan, dan Subarianto.Dedi mengaku mengeluarkan Sari pada pukul 13.15, agak sulit, karena tubuhnya terhimpit reruntuhan. Sedangkan mengeluarkan Suci lebih mudah, karena tidak banyak yang menghimpitnya.

“Tubuh teman-teman itu semua juga saling berhimpitan,” kata Dedi. Tubuh dua korban selamat dikeluarkan dengan menggunakan daun pintu.Dedi juga melihat dengan jelas jenazah mahasiswalainnya yakni  Ruli, Caudia Tanzil, Stefani, Oktalia dan Rido.

Sementara jenazah yang lain, ia tidak bisa mengidentifikasi karena dalam kondisi hancur. Ketika menyelamatkan Suci, ia mengaku mengajaknya bicara agar tidak terus menangis. “Saya ajak dia bicara terus. Saya tak ingin dia bersedih,” kata Dedi yang beralamat di Tabing, Padang itu.Ketika Sari dan Suci berhasil dikeluarkan, warga yang menyaksikan tampak haru. Sejumlah anggota TNI juga tampak menyalami Dedi yang pemberani.

Harus Bisa

Danton Kompi B Batalion 133/YS Lettu Inf Ridwan juga mengaku lega bisa menyelamatkan dua nyawa dari reruntuhan kampus STBA Prayoga.”Saya dan teman bahagia. Ini betul-betul perjuangan yang melelahkan,” kata dia.Ia mengaku sejak Jumat pagi sudah diarahkan oleh Dankinya, Mayor Inf.Edwi Hendrik Butar Butar, agar terus berusaha sekuat tenaga untuk membantu korban. “Kamu harus bisa, jangan pernah putus asa.

Itu arahan komandan,” kata dia.Ia mengaku masuk reruntuhan kampus yang sedang ambruk itu betul-betul menjadi pengalaman luar biasa. “Ini pengalaman pertama saya,” kata Ridwan. Sejumlah mahasiswi STBA dan keluarga korban di halaman kampus itu tampak bersedih. “Kasihan adik-adik,” kata Wulan, mahasiswi BP 2006.

Ketua STBA Prayoga, Tresia, tampak menangis lesu. “Mahasiswa semester III itu anak-anak yang baik. Kasihan mereka,” kata dia.Ia mengungkapkan pada Rabu sore itu juga sedang berada di  lantai I kampus. “Ketika gempa saya bersama dosen lainnya cepat kabur,” kata dia.

Pada saat kejadian, kata dia, juga ada 25 mahasiswa BP 2006 yang sedang belajar di lantai I bersama dosennya, Meijufri.”Mereka semua selamat karena lari ke arah mushala di belakang kampus,” kata dia.Dilanjutkan hari ini Sementara itu, Dandim 0312 Padang, Letkol Art Haris Sarjana mengatakan proses evakuasi korban gempa di Hotel Ambacang, Padang, dilanjutkan Sabtu karena keterbatasan peralatan untuk pelaksanaan evakuasi.

“Proses evakuasi di Ambacang tidak bisa selesai hari ini. Diusahakan secepatnya,” kata Haris. Ia memperkirakan masih ada 60 korban yang terjebak dalam reruntuhan hotel tersebut. “Tidak dapat diketahui apakah mereka dalam kondisi hidup atau meninggal,” katanya.
Tambahan satu alat berat siang hari tadi, menurut dia, sangat membantu proses evakuasi.

Di hari pertama pascagempa proses evakuasi berjalan lambat karena hanya dilakukan secara manual. Bantuan alat berat baru datang di hari kedua.”Pagi tadi kita berhasil menemukan satu korban laki-laki. Target kita hari ini menembus kolam renang, karena di sana diperkirakan  banyak yang terjebak,” ujar Haris.

Di lokasi tersedia tujuh unit ambulans yang siap mengantarkan korban gempa ke rumah sakit. Ketujuh ambulans tersebut berasal dari Jamsostek, PMI, rumah sakit, dan puskesmas keliling.Di Hotel Ambacang, tim evakuasi sore ini menemukan satu orang yang terjebit diantara reruntuhan.

Warga menonton proses evakuasi, sebagian mereka yang kerabat atau anggota keluarganya diduga terjebak di reruntuhan bangunan, mereka menanti hasil kerja tim evakuasi dengan mata sembab.Anggota Tim Evakuasi Hotel Ambacang Ricard Erlangga, mengatakan, diperkirakan masih ada tujuh orang yang selamat di lantai lima dan lantai enam, serta satu orang lagi di lantai tiga tepatnya di kamar 388.

Ia menjelaskan, temuan korban yang masih hidup itu bermula dari peran anjing pelacak milik relawan Jepang yang mengendus adanya korban di lantai lima dan lantai enam. “Tim segera turun ke lokasi yang ditunjukkan anjing pelacak itu. Kami memberikan kode tepuk tangan dan dibalas oleh korban yang masih terjebak juga dengan tepuk tangan,” katanya.

Sementara satu korban lain yang diketahui masih hidup setelah korban yang terjebak di kamar 338 mengirimkan pesan singkat (sms) melalui ponsel kepada keluarganya. “Dari sms  keluarga korban diketahui ada yang masih terjebak di kamar 338,” katanya.

Ia mengatakan, proses evakuasi korban yang terjebak reruntuhan beton terkendala kekurangan peralatan seperti alat berat, dongkrak dan bor besar untuk membongkar beton. “Kami hanya dibantu dua alat berat, padahal untuk bisa cepat perlu dibantu alat lain,” katanya.

Ia mengungkapkan, tim evakuasi juga kekurangan tabung oksigen beserta selangnya untuk membantu proses pencarian.  “Sekarang tersisa tiga tabung, padahal perlu sampai 10 tabung karena petugas pencari yang masuk reruntuhan juga memerlukan pasokan oksigen,” katanya.

Hotel Ambacang yang mempunyai delapan lantai itu, ambruk  tiga lantai bagian bawahnya dan diduga ada sekitar 100 lebih orang yang masih terjebak reruntuhan hotel tersebut. Proses evakuasi korban memang menjadi tontonan warga yang selamat. Seperti yang terlihat pada proses evakuasi korban di kantor Adira Finance, yang diperkirakan korban yang terjebak di dalamnya sekitar 25 orang.

Agus, salah satu warga yang selamat, mengatakan kalau dirinya dengan seorang rekannya ingin melihat proses evakuasi dikarenakan ada salah seorang temannya yang bekerja di tempat itu belum diketahui kabarnya.Meski kemungkinan korban yang ada di dalam bangunan tersebut tipis harapan untuk selamat, tetapi dirinya masih berharap kalau temannya tersebut akan selamat.

“Keajaiban selalu datang kapan saja, dan saya menunggu untuk itu,” katanya. Evakuasi korban menyedot perhatian warga yang selamat ketika melintasi tempat bangunan yang roboh. Rata-rata mereka prihatin atas musibah yang terjadi. Afrizal, salah seorang petugas yang melakukan evakuasi di gedung leasing itu, mengatakan korban yang sudah berhasil dievakuasi sebanyak 15 orang dan saat ini, kata dia, korban yang masih belum dievakuasi masih ada.

“Kemarin, korban yang berhasil dievakuasi tujuh orang, tiga di antaranya selamat. Korban selamat ini ditemukan siang hari kemarin,” urainya.Petugas yang melakukan evakuasi terdiri atas tim SAR, aparat kepolisian, dan TNI.(tim padang)

About oerlee syafroe

aQ suka Maen Komputer, edit Foto, Maen Game,buat rancangan rumah dari AutoCAD, jalan2, makan, Smsan, facebookan Lihat semua pos milik oerlee syafroe

One response to “Masih 8 Korban Hidup di Ambacang

  • richocean

    saat ini saya masih nonton di TV One ttg penyelamatan tsb pakai buldozer oranye tua ….. 1:30PM 3 Oct 2009.

    silahkan ke blog saya richocean ttg “2009 3009 ANGKA Gempa PADANG PARIAMAN. 2009 1010 ANGKA Gempa Tsunami ACEH?” dan “2009 0110 Pagi ini Gempa Bengkulu dan Jambi Menyusul Gempa Padang” dan “Selama 17 jam, 3x Gempa PADANG Sumatra Barat”

    atau blog saya lainnya
    http://richmountain.wordpress.com

    salam …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: